1. Hambatan dan Rintangan
Pada permulaan Islam, nabi berdakwah kepada sanak kerabat, kaum Quraisy tiada menghiraukan dakwah Nabi itu. Mereka membiarkan dan mengira bahwa dakwah Nabi hanya merupakan auatau gerakan yang tidak dapat bertahan lama, tentu akan lemah dan lenyap dengan sendirinya.
Akan tetapi, bukan demikian kenyataannya, dakwah Nabi dengan cepat memasuki rumah tangga kaum Quraisy. Hamba sahaya/budak mereka yang di pandang derajatnya tidak lebih dari harta benda mereka telah menerima dakwah Nabi dengan baik.
Maka para pemimpin kafir Quraisy mulai membicarakan Islam dan Nabi nya. Mereka mengantar rencana-rencana untuk menghadapi perkembangan Islam. Maka di sebarkan lah isu-isu dan propaganda.
Diantara issu yang di sebarluaskan oleh kaum kafir Quraisy ialah, bahwa Nabi Muhammad itu seorang gila karena mengaku sebagai Nabi. Ia tidak lebih dari tukang syair, yang kepandaian nya hanya meniru penyair lain. Bahkan ia dianggap sebagai tukang sihir.
Pemimpin lain Quraisy (Abu Sofyan bin Umayyah dan Abu Lahab) menyebar luaskan propaganda kepada masyarakat untuk menjauhi Nabi. Ketika orang-orang berkumpul di sekitar ka'bah, Abu sofyan dan Abu Lahab dan ajaran nya. Ajaran islam do katakan sesat, karena menyimpang dari ajaran nenek moyang mereka.
Usaha menyebarkan issu dari propaganda untuk menghalangi perkembangan islam tidak berhasil. Bahkan semakin banyak orang masuk islam dari kalangan Quraisy datang kepada Abu Thalib, minta agar Abu Thalib melarang Nabi menyebarkan dakwahnya. Namun usaha ini tidak membawa hasil apapun. Sebab Abu Thalib tidak mau melarang Nabi untuk berhenti dari menyiarkan agama.
2. Gangguan dan Siksaan
Usaha untuk menghalangi kemajuan Islam tidak berhasil. Kaum katir Quraisy meningkatkan kegiatannya dengan mengganggu, mengejek dan memperolok-olok Nabi serta menyiksa pengikutnya.
Beberapa gangguan da ejekan kepada Nabi, ialah :
- Jalan menuju masjid di buangi kotoran, bangkai dan batu.
- Ketika Nabi sedang sholat, di letakkan kotoran di pundaknya.
Untuk memperolok-olok Nabi, mereka minta agar Nabi merubah gunung-gunung di sekitar Mekkah agar nabi merubah bukit Safa dan Marwa menjadi emas. Permintaan itu semua sekedar untuk mengejek.
Permintaan yang bukan-bukan itu tidak di layani oleh Nabi, maka turun wahyu untuk menjawab nya. Firman Allah :
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ
أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan
tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan
sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan
sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak
lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman".
Kaum Quraisy belum puas hanya itu saja, mereka siksa pengikut-pengikut Nabi yang lemah terutama golongan budak.
Yasir dan putra nya Ammar serta isterinya bernama Sumaiyah mati mendapat siksaan dari Bani Makhzun.
Nabi Muhammad SAW, telah mengirim untuk ketiga syuhada tersebut suatu tempat di surga. Bilal bin Rabah seorang budak telah menyatakan keimanan nya kepada Allah di hadapan Nabi Muhammad SAW. ia mempunyai iman yang amat teguh, tidak mudah di goyahkan dengan penganiayaan yang amat berat. Umayyah sebagai majikannya yang menguasai diri Bilal di minta kaum Quraisy agar menyiksa budaknya (Bilal) untuk mencabut Nur Iman dalam hati nya dan kembali ke agama nenek moyangnya. Di bawalahh Bilal ke tengah padang pasir di saat terik matahari, di letangkan dengan mata harus memandang matahari, di atas dada di letakkan batu besar dan di cambuk dengan cemeti agar ia mau melepaskan keimanannya.
Bilal tetap mempertahankan iman nya dengan ucapan "Ahad, Ahad, Allah maha Tunggal. Allah maha Tunggal." Akhirnya Bilal di beli oleh Abu Bakar kemudian di bebaskan menjadi orang merdeka.
Khabab bin Arats dengan keberanian luar biasa san dengan keteguhan iman memikul penderitaan yang amat pedih. Kaum kafir Quraisy telah membakar besi hingga menyala dan merah membara, lalu mereka tempel kan ke tubuh, kedua tangan dan kaki Khabab, sehingga seluruh daging nya terbakar. Khabab tetap sadar, tabah da tawakal, orang-orang Quraisy belum puas dengan perbuatan itu, mereka meminta bantuan Ummi Anwar mengambil besi panas yang menyala, lalu ia letakkan di atas kepala dan ubun-ubun Khabab, namun Khabab tetap meyerahkan nasibnya kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW, pada waktu itu lewat dan melihat penderitaan Khabab tidak mampu berbuat apa-apa, selain meneguhkan hati dan memannjatkan doa :" Ya Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabab." Allah pun mengabulkan doa Rasul-Nya.
Tidak antara lama dari kejadian itu, Ummi Ammar menerima hukuman Qishas.
Semua usaha yang di lakukan kaum kafir Quraisy untuk menghalangi perkembangan Islam tidak berhasil. Seringkali mereka datang kepada Abu Thalib meminta agar Abu Thalib menasehati Nabi untuk berhenti berdakwah. Pada kedatangan mereka yang terakhir kepada Abu Thalib, meminta agar dia menghentikan segala kegiatan Nabi Muhammad dalam menyiarkan agama Islam. Jika Abu Thalin tidak bisa menghentikan kegiatan Nabi Muhammad, mereka sendiri yang akan melakukannya.
Mendengar ketegangan pemimpin-pemimpin kafir Quraisy, Abu Thalib merasa khawatir akan terjadi permusuhan yang besar dalam kaum nya. Tetapi ia juga sangat berat untuk melarang Nabi berdakwah.
Akhir nya Abu Thalib memanggil Nabi dan berkata kepadanya : Wahai anakku, pemimpin-pemimpin kaum ku telah datang kepada ku, meminta ku untuk menasehati mu, agar kamu tidak melanjutkan berdakwah menyiarkan agama Islam. Maka janganlah aku di bebani sesuatu yang aku tidak sanggup memikulnya.
Mendengar perkataan Abu Thalib itu, Nabi mengira, bahwa paman nya sudah tidak mau membantu dakwah Islam yang di kembangkan. Maka beliau menjawab dengan tegas :
" Demi Allah, wahai paman ! Sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kanan ku, dan bulan di sebelah kiri ku, dengan maksud agar aku meninggalkan tugas dakwah ini, aku tidak akan meninggalkan nya, meski pun aku binasa karena nya".
Setelah mengucapkn kalimat tersebut, Nabi meninggalkan Abu Thalib seraya menangis. Namun Abu Thalib memanggilnya, Nabi kembali. Abu Thalib berkata kepada beliau : "Wahai anakku ! Pergilah dan katakanlah apa yang kamu kehendaki (dakwah). Demi Allah. Aku tidak akan menyerahkanmu kepada mereka selama nya.
3. Boikot dan Rencana Pembunuhan
Untuk merintangi perjalanan Islam yang semakin cepat, kaum kafir Quraisy merencanakan hendak membunuh Rasulullah. Rencana ini di dengar oleh Abu Thalib. Lalu ia segera mengadakan rapat keluarga dari keturunan Hasyim dan Muthalib yang bermaksud di ajak bersama-sama menjaga keselamatan Muhammad. Akhir nya rencana pembunuhan di batalkan dan di ganti dengan jalan lain : yaitu mengadakan pemboikotan terhadap Nabi dan Keluarga nya, pada tahun 5 sebelum hijrah bertepatan tahun 616-617 M.
Isi surat pemboikotan sebagai berikut :
- Muhammad dan kaum keluarga nya serta pengikut nya tidak di perbolehkan kawin dengan bangsa Quraisy lainnya, baik laki-laki maupun perempuan.
- Muhammad dan keluarga nya serta pengikutnya tidak boleh mengadakan jual beli.
- Muhammad dan keluarga nya serta pengikutnya tidak boleh bergaul dengan kaum Quraisy lainnya.
- Kaum Quraisy tidak di perbolehkan membantu dan menolong Muhammad, keluarga dan pengikut nya.
Surat pemboikotan ini di gantungkan di dinding Ka'bah dan berlaku buat selamanya, kecuali jika keluarga Muhammad menyerahkan Muhammad.
Dengan adanya pemboikotan umum ini, Nabi Muhammad dan pengikut nya serta keluarga nya terpaksa menyingkir ke luar kota Makkah untuk menyelamatkan diri selama 3 tahun pemboikotan ini berlangsung. Nabi, keluarga dan pengikut nya menderita kemiskinan dan kesengsaraan.
Banyak juga yang merasa iba dan sedih menyaksikan pemboikotan ini. Mereka mengirim makanan dan kebutuhan lain kepada keluarga nya yang ikut nabi pada malam hari secara sembunyi-sembunyi.
Akhirnya ada beberapa pimpinan Quraisy yang menghentikan pemboikotan ini. Mereka merobek-robek pengumuman pemboikotan berakhir, umat Islam kembali ke kota Makkah. Namun orang-orang kafir miskin meningkatkan usaha dan sikap permusuhan nya.